Showing posts with label Seputar Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Seputar Bisnis. Show all posts
Awalsadja

Cara Mengundurkan Diri Tanpa Merusak Jaringan Profesional Anda



Meninggalkan pekerjaan anda saat ini untuk alasan apapun tentunya adalah keputusan yang sangat besar untuk dibuat. Entah karena anda tidak lagi merasa bahagia dengan pekerjaan anda, atau karena anda ingin mengejar kesempatan yang lebih baik, selalu menjadi ide yang baik untuk pergi tanpa meninggalkan kesan buruk. Jika anda stuck di situasi yang sama dan berpikir untuk menulis surat pengunduran diri, tunggulah sampai anda membaca habis artikel ini sebelum anda membuat keputusan akhir.


Matangkan Rencana

Langkah pertama untuk membuat kepergian anda selancar mungkin adalah dengan mematangkan perencanaan karir anda. Ambillah waktu yang anda butuhkan untuk menimbang pilihan dan pikirkanlah keputusan anda. Mintalah cuti beberapa hari jika diperlukan. Gunakan waktu tersebut untuk berpikir apakah meninggalkan kantor anda adalah pilihan yang tepat. Bercerminlah pada kejadian dimana anda merasa lebih senang atau lebih sedih selama mengerjakan pekerjaan anda. Pikirkanlah kejadian mana yang meninggalkan kesan paling mendalam. Jika kenangan menyenangkan lebih banyak muncul, maka anda sudah punya jawabannya. Lebih baik anda menahan diri untuk menulis surat pengunduran diri anda jika anda masih ragu-ragu, hal ini akan mencegah anda untuk membuat keputusan yang salah hanya karena emosi sementara.

Buatlah Draft

Tulislah salinan draft dari surat pengunduran diri anda, draft tersebut harus juga disertai daftar yang mendetail dari alasan anda untuk mengundurkan diri. Jangan membicarakan apa yang terjadi di masa lalu terlalu sering. Fokuslah pada rencana anda dan jelaskan bagaimana pentingnya keputusan ini dalam membantu anda untuk meraih keinginan anda. Menulis surat pengunduran diri sama dengan menulis CV, tulislah beberapa draft dan baca ulang apa yang telah anda tulis sebanyak-banyaknya. Jika anda melihat ada kata-kata di surat tersebut yang kurang enak dibaca, tulislah ulang. Print-lah surat tersebut di atas kertas dan berikan secara langsung kepada bos anda daripada mengirimkannya lewat email, memberikan secara langsung adalah hal yang benar untuk dilakukan dan lebih sopan.

Bicarakan Kepada Atasan

Cara paling mudah agar tidak meninggalkan kesan buruk dengan perusahaan anda saat ini adalah dengan merencanakan pertemuan dengan bos agar anda bisa membicarakan tentang pengunduran diri anda. Gunakanlah waktu ini untuk membicarakan poin-poin yang mungkin telah anda buat di surat pengunduran diri anda dan juga alasan-alasan lain yang anda punya untuk mengundurkan diri. Ingatlah untuk bersikap fleksibel selama pertemuan itu. Jika bos anda meminta untuk menunda pengunduran diri anda, pikirkanlah baik-baik dan cobalah untuk menerima permintaannya, jika anda bisa. Hal ini akan membantu anda untuk bisa keluar dari perusahaan secara baik-baik dan memastikan anda untuk mendapatkan referensi positif dari calon-mantan-bos anda di masa depan. Dunia korporasi itu cenderung kecil, maka penting untuk meninggalkan perusahaan anda dengan membawa kesan positif karena hal ini akan sangat membantu anda untuk mendapatkan pekerjaan di masa depan.

Setelah bagian yang tersulit ini terlewati, anda bisa melanjutkan karir anda tanpa harus membawa beban pekerjaan dari masa lalu bersama anda. Menulis surat pengunduran diri bisa jadi sulit, tapi hal tersebut diperlukan agar karir anda dapat maju tanpa terlalu banyak masalah. Semoga beruntung dalam perjalanan anda!

Sumber: http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/tips_cara_mengundurkan_diri_tanpa_merusak_jaringan?ID=1366
Read More
Awalsadja

Pentingnya Identitas Penjual dalam Bisnis Online


Bisnis online saat ini banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, selain karena kemudahan bertransaksi, bisnis online juga tidak membutuhkan biaya yang banyak. Terlebih saat kita berjualan online di sosial media atau marketplace yang sudah disediakan secara gratis. Ini lebih murah dibandingkan jika Anda harus membeli sebuah website dan nama domain untuk toko online Anda. Tapi tahukah Anda, jika Anda berjualan di sosial media dan marketplace, Anda harus bekerja keras dalam membangun brand atau identitas Anda sendiri. Ini sedikit lebih sulit, dibanding dengan menggunakan website toko online pribadi Anda sendiri. Proses branding Anda juga lebih rumit karena tidak ada yang bisa menggambarkan siapa diri Anda sebagai pemilik barang yang dijual. Padahal mengenalkan identitas Anda sebagai penjual akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan rasa percaya pelanggan terhadap Anda. Lalu bagaimana caranya mengenalkan identitas kita sebagai penjual kepada pembeli itu?

1. Nama toko online

Saat Anda memilih berjualan di sosial media atau marketplace, tentu Anda akan mencantumkan nama Anda atau nama toko Anda sebagai sebuah identitas kepada para calon pembeli Anda. Identitas ini akan dikenal dan diingat oleh pelanggan Anda. Buatlah sebuah nama atau identitas diri Anda yang jelas dan dengan benar. Karena ini akan menciptakan suatu penilaian bagi calon pelanggan Anda. Identitas ini juga akan menciptakan rasa percaya ketika mereka ingin membeli produk Anda.
Beda kasusnya ketika Anda sudah memiliki website toko online sendiri. Nama domain, logo website dan tagline di website Anda akan menjadi identitas pertama Anda. Ini akan terlihat lebih profesional karena Anda bisa mematenkan nama domain hingga nama produk atau bisnis Anda sendiri. Dan jika Anda berjualan di sosial media atau marketplace, masih ada kemungkinan jika produk atau nama Anda dicontek oleh orang lain.

2. Foto produk

Siapa sangka, foto produk juga bisa menciptakan penilaian terhadap identitas penjual. Selain nama toko atau nama produk, foto juga menjadi identitas suatu toko online. Karena saat pembeli melihat foto produk, ia akan langsung tahu produk tersebut milik siapa. Ini berlaku bagi Anda yang mencantumkan sebuah watermark di dalam foto tersebut. Berikan sedikit identitas, baik berupa nama, logo ataupun watermark tersebut.

3. Deskripsi produk

Keunikan dari sebuah produk bisa ditunjukkan dari deskripsi yang ia berikan. Deskripsi produk yang berbeda dari biasanya juga akan menjadi identitas seorang penjual. Di dalam deskripsi produk ini, Anda bisa mencantumkan sebuah kata kunci atau sebuah kata yang unik dan itu bisa menjadi identitas produk Anda.

4. Interaksi dengan pembeli

Senjata ampuh yang bisa dilakukan untuk membentuk identitas penjual terhadap pembeli toko onlinenya adalah interaksi yang ia lakukan terhadap pembeli. Toko online memang berbeda dengan toko fisik dalam hal promosi, berjualan hingga berhadapan dengan pelanggan. Toko online akan lebih mengutamakan peningkatan layanan terhadap pelanggan, karena ini akan menciptakan suatu penilaian di hati setiap pelanggan. Interaksi yang terbentuk antara penjual dan pembeli toko online juga akan membentuk suatu identitas dari penjual itu sendiri.
Menyapa pelanggan toko online juga tidak harus selalu formal. Anda tentu pernah mendapat sapaan “sis” atau “gan” saat berinteraksi dengan penjualan toko online. Ini adalah salah satu yang bisa digunakan untuk menyapa pelanggan Anda. Mereka akan menganggap Anda sebagai pemilik toko online yang ramah dan unik. Identitas yang cukup mudah bukan?

5. Kualitas produk

Selain empat kunci diatas, ada satu lagi yang tidak bisa ditinggalkan, yaitu kualitas produk yang Anda jual. Kualitas produk akan membentuk penilaian dan identitas di hati pembeli Anda. Anda bisa saja memajang foto paling bagus, dan deskripsi yang meyakinkan, tapi ketika pelanggan Anda kecewa dengan kualitas produk Anda, itu akan membentuk identitas yang sangat tidak diharapkan oleh Anda sebagai penjual. Namun jika Anda menjual produk yang unik dan berbeda dengan kualitas baik, bisa dipastikan pelanggan akan mudah mengingat toko online Anda. Kesuksesan toko online bisa dinilai dari kualitas produk dan kualitas layanan yang diberikan.

Sumber : http://mediabisnisonline.com/pentingnya-mengenalkan-identitas-penjual-dalam-sebuah-bisnis-online/
Read More
Awalsadja

Kesalahan Fatal Memulai Bisnis untuk Masa Pensiun


Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan seorang klien, seorang PNS yang kurang beberapa bulan lagi memasuki masa pensiun. Dari obrolan itulah saya mendapat sebuah pencerahan tentang waktu yang tepat berbisnis untuk masa pensiun.
Dari pembicaraan saya waktu itu, saya bisa menangkap sebuah pelajaran berarti buat para PNS yang ingin menyiapkan bisnis pada saat pensiun nanti. Tentang sebuah kenyataan yang selama ini salah kaprah diterapkan oleh para PNS yang ingin berbisnis saat pensiun.
Apa kesalahan fatal yang kebanyakan dilakukan para PNS? Kesalahan itu terletak pada KAPAN MEMULAI BERBISNIS untuk masa pensiun. Tahukah anda? Kebanyakan para PNS memulai bisnisnya justru saat pensiun telah tiba. Justu langkah ini salah besar, berikut ini alasannya; 

Dalam Bisnis, Trial Error Pasti Terjadi 

Tidak ada dalam kamus bisnis saat kita menjalankan bisnis, bisnis itu langsung melejit dan berkembang tanpa hambatan sedikitpun. Fakta dilapangan, bisnis yang sukses pasti akan mengalami kegagalan beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar berjalan dan bertahan.  Jadi, saat kita memulai bisnis saat masa pensiun sudah dekat atau bahkan pensiun sudah tiba, dikhawatirkan kita akan sibuk oleh trial error ini.
Mengapa kita tidak boleh disibukkan dengan trial error? Karena semakin tua pasti daya kerja otak akan menurun, tidak seperti masih muda. Pasti capeknya, dan ketahanan psikologis menghadapi kegagalan juga akan menurun khan? Apalagi kalau kita sudah mulai sakit-sakitan, tambah susah melangkah khan?

Masa Muda adalah Masa Keemasan Bagi Pebisnis

Coba anda lihat para pebisnis yang sukses. Rata-rata mereka sudah merintis segalanya sejak masih muda. Masa muda adalah sebuah masa dimana segala bagian tubuh kita bisa benar-benar berfungsi maksimal. Kita juga mudah mencari relasi dan berinovasi dengan cepat. Bagaimana jika baru memulai bisnis pada masa tua? Akan terasa sulit khan?
Dari alasan diatas, semoga ada pencerahan buat teman-teman PNS yang ingin menikmati masa pensiun dengan menjadi pebisnis. Mulailah selagi kita masih muda, seperti yang dilakukan klien saya tersebut. Dia berjuang saat masih muda dalam membangun bisnisnya. Bahkan saat teman-teman kantornya sudah pulang dan istirahat di rumah, dia masih belum pulang mengurus bisnisnya. Tapi kini setelah dia tua dan menjadi pensiunan, dia tinggal menikmati hasil dari apa yang dulu dibangunnya.
Buat teman-teman PNS; carilah bisnis yang mudah dikelola tanpa banyak campur tangan kita MULAI SEKARANG. Jangan tunda kesempatan yang ada mumpung segalanya masih terasa mudah dan ringan. Jangan takut dengan resiko dan ketidaknyamanan karena harus merangkap sebagai pebisnis saat kita seharusnya sibuk sebagai pegawai.
Yakinkan dalam diri; walau tersiksa diawal perjuangan, pasti anda akan tersenyum BANGGA saat pensiun telah tiba nanti. Pasti anda akan tersenyum BANGGA karena bisa tenang menikmati hari tua dengan status sebagai seorang…PENGUSAHA.
Semoga artikel ini bermanfaat, sampai jumpa minggu depan di artikel yang baru ya…..

Sumber: http://motivasi.petamalang.com/kesalahan-fatal-memulai-bisnis-untuk-masa-pensiun
Ilustrasi : http://outright.com
Read More
Awalsadja

Cara Berniaga Seperti Rasul


PERNIAGAAN adalah perkara yang penting dalam Islam, malah menjadi satu terminologi yang sering disebut dalam al-Quran, contohnya:

"Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan tetap mendirikan solat serta mendermakan dari apa yang Kami kurniakan kepada mereka secara sembunyi atau secara terang-terangan, mereka mengharapkan sejenis perniagaan yang tidak akan rugi(35:29)"

"Wahai orang-orang yang beriman. Mahukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya? Yakni kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya, serta kamu berjuang membela dan menegakkan ugama Allah dengan harta benda dan diri kamu, yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu hendak mengetahui (61:10-11)"

Kenapa Allah menyebut perniagaan dan bukan pekerjaan? Karena perniagaan itu adalah sesuatu yang menguntungkan dan memerlukan usaha kita sendiri. Dan bias juga merugikan sekiranya tidak dijalankan dengan betul.

Dan Rasulullah sering dianggap miskin. Tidak, Rasul adalah seorang yang kaya. Cuma hidup yang dijalaninya tidak seperti orang-orang kaya. Lihatlah ketika Rasul berjuang, contohnya berperang. Baju perang, pedang Rasul adalah dari yang terbaik, kuda-kudanya adalah dari jenis yang terbaik. Makna kata seluruh harta Rasul  digunakan untuk memperjuangkan Islam, bukan membuncitkan perut sendiri. Malah Rasulullah pernah mengikat batu-batu ke perutnya untuk menahan lapar.

Rasulullah pernah bersabda tentang pemilikan harta:
"Harta itu merupakan kekayaan terpuji tetapi hanya bagi orang yang soleh, kerana orang yang soleh akan menggunakan hartanya secara bijaksana, tidak dikotori rasa angkuh yang menghilangkan keberkatan dari Allah."
Nah, bagaimana Rasul berniaga?

Tidak Pernah Berdebat

Rasulullah ketika berniaga, tidak pernah menyakiti hati peniaga lain. Hal ini diakui oleh mereka yang pernah berurusan dengan Rasul SAW sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Dalam satu peristiwa, seorang peniaga bernama Saib bin Ali Saib datang menemui Rasulullah SAW. Melihat Saib datang, Rasulullah berkata, "Mari, mari. Selamat datang saudara saya, dan rekan niaga saya yang tidak pernah bertengkar," kata Rasulullah. Saib membalas dengan berkata, "Kita tidak pernah bertengkar sebab tuan peniaga yang sentiasa lurus dan tepat dengan perkiraan."

Teknik Menjual Yang Unik

Mengikut riwayat, Nabi menjual barang-barang tidak seperti yang dilakukan oleh kebanyakan peniaga atau saudagar lainnya ketika itu. Baik peniaga Arab atau pun bukan Arab. Biasanya para peniaga menjual barang-barang dagangan mereka dengan meletakkan harga yang setinggi mungkin. Tetapi Nabi menjualnya dengan cara memberitahu harga pokok dan meminta para pelanggan atau pembeli membayar berapa harga yang mereka kehendaki.

Dengan cara ini pembeli merasa puas dan senang hati karena mereka merasa tidak tertipu oleh peniaga. Lalu mereka membeli dengan larisnya sehingga barang-barang Nabi paling laku dan cepat habis dibandingkan rekan-rekan Rasul yang lain. Selain itu Nabi juga mengambil sikap menjual dengan harga modalnya saja apabila si pembelinya seorang yang benar-benar miskin tetapi memerlukan kepada barang itu. Rasul amat penuh rasa dan pengasihan belas kepada sesamanya. Manakah ada manusia yang menjual barang-barang dagangannya dengan harga modalnya saja selain Rasul?

Senantiasa Tersenyum

Satu lagi daya penarik yang luar biasa yang telah menarik para pembeli untuk mendekati barang-barang Nabi ialah sikap dan wajah Rasul  selama berjualan itu. Selaku seorang insan yang oleh Allah berwajah menawan dan gemar melemparkan senyuman kepada orang, maka Nabi menggunakan kelebihan itu. Walaupun tutur kata tidak seberapa, tetapi para pelanggan tetap menyukai orang yang berwajah manis dan selalu memberi senyuman kepada orang.

Jujur

Rasul  bersabda, "Peniaga yang dapat dipercayai dan beramanah, akan bersama para Nabi, orang-orang yang dapat dipercayai dan orang-orang yang mati syahid," (Riwayat Al-Imam At-Tarmizi). Dalam konteks ini, kejujuran ditekankan kerana kejujuran merupakan elemen terpenting dalam perniagaan. Ketika kita berbincang mengenai perniagaan seorang Muslim, kita sebenarnya sedang membincangkan satu konsep perniagaan yang membangun hubungan kepercayaan di antara peniaga dan pelanggan, dan hal ini tidak bisa dicapai dengan adanya dusta dan penipuan.

Pada suatu hari, Rasulullah berjalan-jalan di kawasan pasar bandar Madinah. Rasul  lalu menemui seorang peniaga yang menjual buah-buahan. Rasulullah memeriksa buah-buahan itu dengan memasukkan tangannya ke dalam satu buah-buahan itu. Kemudian Rasulullah menarik tangannya keluar dan menunjukkan jarinya yang basah kepada peniaga itu. "Apa ini saudara?" tanya Rasulullah. "Terkena hujan, tuan," kata peniaga itu. "Mengapa saudara tidak letakkan buah-buahan yang basah itu di sebelah atas supaya orang dapat melihatnya?" kata Rasulullah. Kemudian Rasul  berkata lagi, "Barang siapa menipu, dia bukan pengikutku."

Tidak Bersumpah Palsu

Dengan tegas, Rasulullah SAW mengecam amalan perdagangan yang dipenuhi tipu daya. Apalagi sampai bersumpah palsu, mengandungi unsur riba atau berbisnis di pasar gelap. Sebab, model bisnis seperti itu tak hanya merugikan orang lain, tapi juga membuat perniagaan yang dijalankan tidak lancar. Hal itu sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis, "Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Apabila mereka jujur dan mau menerangkan (keadaan barang), mereka akan mendapat berkah dalam jual-beli mereka. Dan jika mereka bohong dan menutupi (cacat barang) akan dihapuskan keberkahan jual-beli mereka." (HR. Muslim) Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabat untuk tidak melakukan sumpah, karena hanya akan mengakibatkan hilangnya berkah.

Lemah Lembut

Rasulullah SAW senantiasa mengamalkan sikap baik hati dan lemah lembut ketika menjalankan perniagaan. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: "Allah SWT memberikah rahmat kepada orang yang berbuat baik ketika ia berjualan, ketika ia membeli dan ketika ia membuat tuntutan."

Fasih Tutur Kata

Rasulullah SAW merupakan seorang yang mempunyai kefasihan dalam tutur katanya. Tutur katanya lembut, lunak didengar, tidak pernah berbohong dan senantiasa jujur. Oleh itu, tidak heran ketika mengatur perniagaan harta Khadijah, Rasul  memperoleh keuntungan yang banyak. Terdapat sebuah hadis yang menceritakan kefasihan Rasul  yang telah diriwayatkan oleh Al-Tarmizi dari Syaidatina Aishah: "Adalah Rasulullah berkata-kata dengan perkataan yang terang serta jelas lagi tegas, dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya (duduk bersama Rasul )

Sumber:
  1. http://www.islampos.com/cara-berniaga-seperti-rasul-1-86600/
  2. http://www.islampos.com/cara-berniaga-seperti-rasul-2-habis-86681/
Read More
Awalsadja

Empat Tipe Orang yang Tidak Cocok Menjadi Pengusaha

Ingin bekerja sendiri atau membuka usaha? Meskipun berwirausaha memiliki banyak keistimewaan, seperti tidak punya bos dan bebas bekerja pada bidang yang Anda sukai, ada beberapa orang yang merasa lebih baik bekerja untuk orang lain. Berikut ciri-cirinya:

1 Orang yang tidak suka mengambil risiko. Berwirausaha memiliki risiko yang bisa dikendalikan dengan membuat kalkulasi matang, tapi tentu saja selalu ada bahaya kegagalan. Takut gagal bisa merusak usaha baru tersebut. “Orang yang takut mengambil risiko akan lumpuh oleh tekanan berita sehari-hari tentang apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan sebuah bisnis,” tutur Scott Gerber, pendiri Young Entrepreneur Council.

2. Orang yang menyukai gaya hidupnya.

Para pemilik bisnis kecil yang cerdas tahu bahwa penghematan pengeluaran mungkin diperlukan, terutama pada awal usaha. “Waktu, uang, dan sumber penghasilan harus disesuaikan dengan gaya hidup dan bisnis Anda,” tutur Gerber. Contoh berkurangnya penghasilan bisa disesuaikan dengan pindah ke apartemen yang lebih kecil, menunda memiliki anak atau sesuatu yang sederhana seperti memasak makanan sendiri daripada makan di luar. Jika Anda tidak ingin memberikan pengorbanan, berwirausaha akan menimbulkan banyak kesulitan.
  
3. Orang yang membutuhkan gaji setiap dua pekan.
Orang yang tidak mampu hidup tanpa pendapatan pasti mungkin tidak berkembang sebagai pengusaha. “Mungkin diperlukan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan gaji pertama Anda,” dan itu jika Anda beruntung, tutur Gerber. Dan Bahkan jika Anda benar-benar mendapat gaji, gaji itu akan datang dalam jumlah besar. “Anda bisa mendapatkan penghasilan tahunan Anda dalam dua bulan dan harus menggunakan pencairan gaji untuk mempertahankan kebutuhan bulanan.

4. Orang yang menikmati disuruh-suruh.
Beberapa karyawan hebat sangat tidak cocok menjadi pengusaha. Satu contoh utama adalah orang-orang yang bisa melaksanakan visi orang lain dengan sempurna, tapi tidak bisa mewujudkan ide sendiri. “Bahkan para pendiri yang introvert harus mampu mengatur arah perusahaan, mengembangkan strategi dan mendelegasikan tanggung jawab kepada karyawan atau kontraktor,” tutur Gerber.

Apakah Anda termasuk salah satu dari empat tipe orang di atas?

Sumber: http://id.she.yahoo.com/empat-tipe-orang-yang-tidak-cocok-menjadi-pengusaha-080647690.html
Read More
Awalsadja

Ide Sederhana Untuk Memasarkan Usaha Kecil Anda

Membuka usaha itu sederhana. Asal ada kemauan dan berani, pasti bisa.
Lalu setelah itu apa? Bagaimana mengembangkan dan memasarkannya?
Banyak strategi yang dapat kita lakukan. Kreatifitas sangat diperlukan. Jika merasa tidak mempunyai ilmunya, jangan malu bertanya dan belajar kesana-kemari. Berikut ini kita bahas ya prinsip dan strategi dasar untuk memasarkan usaha kecil yang baru anda buka itu….


1. Perjelas segmentasi pasar

Kenali produk anda dengan baik, lalu pilihlah segmentasi pasar yang diinginkan. Menentukan segmen pasar ini banyak caranya, dan tergantung pada produknya juga. Dengan memperjelas segmen pasar yang akan dibidik, kita akan lebih mudah menentukan strategi harga, cara beriklan, bahasa iklan, dan kepada siapa kita harus bersinergi.

2. Promosi efektif dan terukur

Kalau sudah menentukan target pasar dengan jelas, akan lebih mudah untuk kita merencanakan model promosi dan strategi perencanaan pemasaran yang kita lakukan. Pilihlah beberapa dari aneka model promosi yang ada. Lalu rencanakan priodenya, besaran anggaran yang akan dikeluarkan, media apa yang akan digunakan. lalu catatlah hasilnya dengan lengkap. Mengukur efektifitas promosi misalnya dapat dilakukan dengan memberi kuisioner pada setiap pelanggan yang datang, dari manakah dia tau informasi mengenai usaha kita. Beri hadiah kecil bagi yang bersedia mengisi kuisioner dengfan lengkap. Data-data yang diperoleh akan memudahkan lagi untuk menentukan jenis dan model promosi yang akan kita lakukan di masa yang akan datang.

3. Membuat paket produk

Membuat paket-paket produk membuat calon konsumen mempunyai lebih banyak pilihan. Selain itu juga mampu ‘memaksa’ konsumen untuk membeli produk dalam jumlah yang banyak. Paket produk ini bertujuan agar konsumen membeli produk kita lebih dari satu produk, misalnya saja paket bundling, paket hemat, paket premium ataupun paket-paket saat periode tertentu (hari besar, hari istimewa dan sebagainya).

4. Hadiah dan iming-iming

Sering-seringlah melakukan promo dengan memberikan hadiah, paket promosi atau apa saja bentuk insentif untuk konsumen anda. Misalnya, ada diskon khusus atau hadiah khusus jika konsumen tersebut melakukan pembelian berulang atau pembelian dalam jumlah tertentu. Pada dasarnya konsumen senang jika diberi insentif sehingga akan memotivasi untuk melakukan pembelian lebih. Insentif bisa berupa potongan harga, gimmick hadiah, tambahan bonus, voucher dll.

5. Lakukan variasi dan pengembangan produk

Luangkan waktu untuk melakukan pengembangan produk (product development). Pengembangan produk ini bisa kita lakukan dengan cara membuat varian produk/jasa yang lebih variatif. Hal yang penting dari strategi ini adalah kita peka terhadap kebutuhan konsumen. Varian produk ini bisa dalam hal ukuran yang berbeda, fitur yang berbeda, jenis produk, tipe serta variasi lainnya.

6. Saling bertukar voucher dengan pengusaha lain

Bekerja sama dengan pemilik usaha lain perlu dilakukan. Bisa dalam bentuk bundling produk, jika produk anda dapat disatukan dalam sebuah paket dengan produk atau jasa milik tetangga anda. Misalnya, anda punya produk sabun mandi, maka coba bundling produk anda dengan produk pelengkap mandi milik tetangga anda seperti lulur atau shampoo.
Atau anda bisa juga bertukar voucher dengan orang lain, misalnya dengan pembelian tertentu di toko anda akan memperoleh voucher belanja 100rb di toko teman anda yang menjual produk berbeda dengan yang anda jual. Imbalannya, teman anda pun melakukan hal yang sama untuk toko anda. Ini sinergi saling menguntungkan anda juga pelanggan anda.

Oke, selamat berkreasi………
Sumber: http://kampungwirausaha.com/Ilustrasi: http://www.mpdailyfix.com/

Read More
Awalsadja

Franchise Indonesia Payaahhh...


"Franchise Indonesia payaahhh... Orang kita belum siap menerima bisnis franchise..."

Begitulah ungkapan beberapa pengusaha bisnis franchise (franchisor) lokal yang telah mengembangkan bisnisnya dengan sistem franchise. Beberapa dari mereka adalah klien kami juga, yang semula begitu antusias mengembangkan jaringan outletnya dengan franchising. Bahkan beberapa franchisor tersebut adalah penerima Franchise Award dari beberapa media dan lembaga.

Apakah memang benar ungkapan dari beberapa franchisor di atas? Paling tidak saya membenarkan bahwa presepsi dan citra franchise lokal Indonesia tidak banyak yang langgeng. Kantor konsultan franchise IFBM (International Franchise Business Management) tempat saya dan beberapa teman berjihad, pernah melakukan survey pada tahun 2011 dan mendapatkan hasil bahwa rata-rata hanya 20% jaringan outlet franchise yang gagal dari para pengusaha bisnis franchise (franchisor) yang memfranchisekan bisnisnya. Tetapi pada perkembangannya, citra yang terbentuk dari bisnis franchise lokal kita memang berkembang seperti ungkapan di atas.

Sebagai pembimbing dan pengamat bisnis franchise yang telah menjalankan kegiatan ini lebih dari 17 tahun lalu, saya bisa memahami situasi para franchisor (pemberi waralaba) yang telah menjalankan bisnis franchise nya tersebut. Kebanyakan dari mereka, para pengusaha bisnis franchise, masih banyak yang hanya berkonsentrasi pada peningkatan teknis operasional bisnisnya saja dan sangat kurang melakukan peningkatkan dan pengembangan entrepreneurship dari para franchisee -nya (penerima waralaba).

Dalam franchising, seharusnya konsentrasi dari para franchisor adalah: 'bagaimana membuat para mitra franchisee -nya untuk dapat segera mandiri dan terampil dalam menjalankan bisnis franchise -nya dan menjadi sukses'. Jika franchisor hanya mempersiapkan diri untuk sekedar melakukan support saja, tanpa memberdayakan para mitra franchisee -nya menjadi pengusaha sukses yang mandiri, maka semakin banyak jaringan outlet akan membuat franchisor menjadi semakin sibuk dan melepaskan fungsi pemberdayaan kepada para franchisee -nya. Hal ini secara akumulatif juga akan membuat para franchisee merasa franchisornya mengecewakan mereka.

Franchisor yang mengeluh dan menganggap franchise di Indonesia makin payah, sebenarnya mereka tidak mempunyai pemahaman yang lengkap mengenai konsentrasi pengelolaan franchise yang efektif. Mereka tidak mempunyai program yang sistematik dan efektif untuk membimbing para franchiseenya menjadi entrepreneur yang tangguh. Para franchisor harus membuat bobot program yang cukup untuk menjadikan para franchisee -nya menjadi "businessman" yang sukses.

Pasti mereka akan tetap melihat bahwa para franchisee -nya semua payah, jika franchisor hanya memberikan pelatihan kepada franchiseenya selama 2 minggu hingga 1 bulan tanpa ada program lanjutan yang membuat franchisee menjadi pebisnis tangguh.

Beberapa franchisor lokal dengan merek yang sudah terkenal bahkan tidak mempunyai training center. Ada juga yang tidak pernah mengunjungi outlet franchiseenya lagi setelah pembukaan outletnya 2 tahun yang lalu.

Saya melihat ada franchisor yang memiliki training center yang canggih, tetapi program trainingnya hanya berkisar pelatihan operasional saja. Program trainingnya tidak mengarah untuk menciptakan para franchiseenya menjadi pebisnis mereka yang tangguh. Maka, wajar saja bila banyak franchisor yang mempunyai presepsi bahwa franchise itu payah dan para pembeli franchise di Indonesia "tidak mengerti" franchise.

Dari pengalaman 17 tahun membantu mengembangkan bisnis franchise, berikut ini adalah catatan saya mengenai kunci sukses membangun bisinis franchise:

1. Business Mastery.

Saya masih melihat banyak franchisor yang sudah menawarkan franchisenya, tetapi sebenarnya dia tidak mastery dalam berbisnis. Mereka tidak paham mengorganisasi bisnisnya, tidak bisa membaca laporan keuangan, tidak paham mengenai manajemen pemasaran, dan bahkan mereka tidak memahami index-index bisnis di industri yang difranchisekan tersebut. Jika demikian halnya, maka franchisor ini pasti belum pantas menjadi "guru" dan pembimbing bagi para franchiseenya. Wajar jika franchiseenya banyak yang gagal atau merasa lebih baik menjalankan bisnisnya semaunya sendiri.

2. Standard Business Model.

Beberapa franchisor tidak mempunyai business model yang standar, sehingga setiap mempunyai franchisee baru akan ada ketetapan baru yang intuitive. Franchisor ini tidak mempunyai visi dan tidak berorientasi membangun bisnisnya. Franchisor ini pasti juga tidak mempunyai organisasi yang mapan. Prosedurnya berubah-ubah. Dan bahkan saya bertemu juga dengan franchisor lokal dari usaha cafe yang menyerahkan seluruh pendirian outletnya dan prosesnya kepada franchisee asalkan dia membayar lebih banyak.

Dalam standard business model diperlukan paling tidak dua standarisasi, yaitu: standarisasi bentuk (desain, ukuran, peralatan, perlengkapan, organisasi), dan standarisasi proses (proses marketing, proses operasional dan proses administrasi).

3. Good start.

Mengawali dengan benar. Sukses bekerjasama dengan franchisee untuk jangka waktu paling tidak 5 tahun harus diawali dengan permulaan yang baik dan tepat. Hal ini yang seringkali menyebabkan kegagalan dalam franchising. Saya menempatkannya sebagai penyebab kegagalan ranking yang ke dua.

Franchisor harus memilih mitra franchisee yang cocok dengan dia dan bisnisnya untuk bisa menjalin kerjasama selama masa kontrak. Kenyataannya, banyak franchisor lokal yang tidak perduli dengan kecocokan asalkan calon franchisee mau membayar. Ada tiga hal yang perlu dimulai dengan baik dan tepat:

  1. Franchisee yang tepat: baik karakternya, cooperativeness, punya modal yang cukup, dan punyak kemampuan (teknis) menjalankan bisnisnya.
  2. Perjanjian Franchise yang lengkap dan jelas.
  3. Memastikan bahwa calon franchisee memahami kerjasama franchise dan perjanjian bisnis yang akan dijalankan. Ini bagian paling penting!

4. Ongoing Management.

Pengelolaan kerjasama franchise yang berkesinambungan. Bukan hanya menjual franchise dan meninggalkan franchisee.

Kegagalan melakukan pengelolaan yang berkesinambungan ini adalah penyebab kegagalan bisnis franchise yang utama. Cara untuk menjadikan bisnis franchise menjadi sukses adalah dengan menjadikan para franchiseenya pebisnis yang sukses.

Berikut ini adalah beberapa program ongoing management yang perlu dilakukan franchisor dalam mengelola bisnis franchise:

  1. Training development yang berorientasi kepada suksesnya outlet franchisee.
  2. Branding dan marketing development: memperkuat branding akan membuat franchisee lebih mudah berbisnis. Kembangkan jurus-jurus marketing yang efektif serta kerjasama pemasaran yang akan membantu franchisee lebih mudah berbisnis.
  3. Operational Support: yang berorientasi untuk cepat dan tanggap dalam mengatasi masalah teknis. Tingkatkan service level: tepat waktu, tepat jumlah dan tepat jenis.
  4. Research and Development: selalu membuat pengembangan yang advance. Sepuluh langkah didepan kompetitor. Banyak franchisor lokal hanya mengembangkan produk dagangannya saja. Sebaiknya franchisor juga meneliti dan mengembangkan business conceptnya yang berorientasi ke masa depan.
  5. Relationship program: dimana franchisor punya program yang sistematis untuk membuat para franchiseenya semakin loyal dan semakin giat dengan bisnis franchise yang dijalankannya. Franchisor perlu membuat agar franchisee bangga dan harmonis dalam bekerjasama dengan franchisor. Tidak banyak franchisor lokal yang mempunyai program relationship ini yang teratur dan terdokumentasi dengan standar.

Apakah Franchise Indonesia payaahhh..? Saya sangat sarankan ikuti dulu saran-saran saya di atas. Pasti franchise Indonesia akan menjadi lebih maju dan berani bersaing global.

Konsultan franchise IFBM akan dengan senang hati untuk memfasilitasi small group workshop bagi para pengusaha franchise yang ingin mendalami program-program yang efektif dalam membuat bisnis franchise yang sukses.

Sukses berbisnis franchise di Indonesia dan kembangkan menjadi pemain global..

#Burang Riyadi. MBA
Disalin dari http://www.facebook.com/TDABalikpapan/posts/629184353774229
Ilustrasi: http://www.nobullburgers.ca/
Read More
Awalsadja

Teknik Pemasaran Hebat

Adul (nama samaran) dan Arul (nama samaran juga), adalah dua orang penjual produk suplemen, dua-duanya energik, punya antusiasme level dewa, sangat positif dan punya rasa percaya diri yang luar biasa.

Adul berjualan produk suplemen impor dengan kualitas yang premium, berteknologi dan "branded".

Sedangkan Arul hanya berjualan produk suplemen lokal dengan kualitas dan teknologi yang pastinya levelnya di bawah produknya Adul.

Adul menempuh jalan pemasaran yang selama ini dia yakini, ketemu prospek, memberi salam, berjabat tangan lalu bercerita (presentasi) tentang produk terbaik yang dia pasarkan. Lumayan, berkat kemampuan verbal, retorika dan pendekatannya yang bagus, mulai banyak 'closing', yaak satu -- nambah lagi satu dan satu lagi. Adul cukup senang hari itu.

Bagaimana dengan Arul?
Arul tidak punya kemampuan verbal dan retorika sebagus Adul. Pilihan kosakata Arul tidak sehalus dan seindah koleksinya Adul. Tetapi hasil Arul bisa mencapai 10x lipat pencapaian Adul. Lho gimana bisa?

Sederhana....

Arul mendatangi prospeknya, lalu berkenalan, mulai bertegur sapa ringan sampai terlibat pembicaraan hangat tentang keluarga - hobi dan latar belakang. Seru .... Sang prospek terlihat sangat gembira karena sejak awal percakapan, Arul lebih banyak mendengar daripada bicara, Arul nampak asyik menyimak penuturan cerita sang prospek sambil sesekali menimpali dengan guyonan segar dan tampak sang prospek tertawa lepas.

Sampai akhirnya berbicara tentang pekerjaan masing-masing, lagi-lagi Arul nampak antusias mendengarkan kisah pekerjaan sang prospek. Cukup lama berselang, nampaknya sang prospek mulai sadar, kok dia terus yang ngoceh, "Wah maaf nih Mas, dari tadi saya terus yang ngomong, tapi nampaknya Mas ini serius menyimak yaa, gimana ... gimana Mas ini dinas dimana?", tanya sang prospek.

Arul menjawab ringan, "Saya jualan produk suplemen lokal Pak".

Prospek, "Waah, boleh saya lihat produknya?"

Arul, "Lho, saya pikir Bapak nggak tertarik dengan produk suplemen, saya nyimak dari cerita Bapak tadi kalo Bapak selalu menolak tiap salesman yang jualan produk macam ini".

Prospek, "Ha ha ha... nggak lah, iya nggak apa-apa juga sekali-kali menyimak penjelasan Mas, siapa tau berguna".

Arul mulai menjelaskan singkat, padat ddan informatif.

Prospek, "Hmm... gitu yaa, kebetulan saya ada keluhan soal itu tuuh, boleh deh saya coba bawa brosur produk Mas dulu yaa".

Tidak ada 'closing' saat itu, mereka hanya bertukar informasi kontak dan saling berpisah.

Arul kecewa? Tidak.

Dua hari kemudian, sang Prospek menelepon Arul, "Mas, sore ini datang ke rumah saya yaa".

Ketika Arul datang ke rumah sang Prospek, ternyata sedang ada acara arisan keluarga besar, Arul hanya duduk diam sementara sang Prospek yang malah mempromosikan Arul dan produknya. Prospek, "Mas Arul ini orangnya baik, ramah dan teman diskusi yang menyenangkan. Oh ya dia juga jual produk bagus lho, kalau saya baca di brosurnya sih manfaatnya ini dan itu".

Singkat cerita, peserta arisan keluarga termasuk sang Prospek langsung memborong produk Arul, bahkan sampai Arul mesti berjanji kembali lagi esok hari mengantarkan kekurangan produk yang dipesan.

Woow ...

Sahabat TDA'ers,

Seringkali kita terlalu mendewakan produk (komoditas) yang kita jual, kita berceloteh tentang kualitas, tentang "value for money", tentang superioritas produk dan seterusnya.

Tetapi seringkali pula kita lupa, bahwa the "real product" adalah diri kita sendiri. Di kisah di atas, Adul fokus menjual produk, sementara Arul fokus menjual "personality" nya.

Karena pada hakikatnya, orang akan membeli "personality" kita, bukan semata-mata produk komoditas yang kita jual dan pasarkan.

Selamat malam....

Disalin dari: http://www.facebook.com/TDABalikpapan/posts/628357467190251
Ilustrasi: http://marketingsystemblueprints.com/
Read More
Awalsadja

GJ Hart Sempat Dipandang Sebelah Mata



GJ Hart tidak bisa melupakan peristiwa yang terekam sepanjang hidupnya, saat pertama kali ia menghadiri pertemuan bisnis di New York, 1980 silam.

Pertemuan bisnis itulah yang membuatnya menginjakkan kaki pertama kali di New York. Ia masih berusia 22 tahun saat itu. Datang dari Virginia dan ditertawakan orang-orang yang hadir dalam pertemuan tersebut

Kala itu Hart menggunakan pakaian yang berbeda. Alih-alih pakai jas dan dasi, ia memilih gaya unik Virginia, ala cowboy.

"Saya selalu ingat dengan peristiwa tersebut. Saya hanya seorang anak desa dari Virgina dan mereka benar-benar mengolok-olok saya. Saat itu saya bertekad akan membuktikan bahwa mereka salah dan tak seorang pun bisa menertawakan saya lagi," katanya seperti dilansir Off The Cuff Yahoo Finance CNBC, 15 Februari 2013 lalu.

Hart dan keluarganya berimigrasi dari Belanda ke Amerika Serikat saat usianya baru 5 tahun. Hart muda belajar bahasa Inggris dan mati-matian beradaptasi dengan gaya hidup Amerika Serikat.

Jiwa kepemimpinan Hart tumbuh secara alami. Ia selalu ingin mengontrol situasi. Hart remaja secara inisiatif selalu memimpin pertandingan American Football dalam setiap liga kecil di kotanya. Ia juga menjadi kapten dalam setiap olahraga yang ia ikuti.

"Saya harus mengorganisasikan kekacauan. Tak ada yang menunjuk saya, saya sendiri yang menunjuk. Saya merasa seseorang harus memimpin pertandingan, mengapa tidak saya?" katanya.

Selesai kuliah, Hart bergabung dengan Shenandoah Valley Poultry Company dan selama delapan tahun ia berhasil menjabat General Manager dan mempunyai anak buah sekitar 500 orang. Karirnya meroket dan menduduki berbagai jabatan penting di berbagai perusahaan.

Pada 2000 lalu, Hart bergabung dengan Texas Roadhouse, sebuah restoran dengan jaringan luas di Amerika Serikat dan berhasil menjabat sebagai CEO pada 2009 lalu. Hart mengoperasikan lebih dari 350 restoran Texas Roadhouse.

Selama 10 tahun bekerja di Texas Roadhouse, ia berhasil meningkatkan pendapatan perusahaan dari US$63 juta menjadi US$1 miliar. Jiwa kepemimpinan, strategi yang visioner dan kemampuan untuk mengayomi karyawan telah menjadi pilar Texas Roadhouse meraih kesuksesan.

"Bisnis sempurna adalah saat saya dapat bersentuhan dengan banyak orang dan membuat mereka merasa senang dengan keadaan diri mereka sendiri, sehingga pada saatnya mereka akan membawa perusahaan ini mencapai misi. Ini semua bukan tentang saya, tapi bagaimana saya dapat melayani mereka," katanya.

Hart berkomitmen kuat menyejahterakan pegawai. Sebagai CEO Texas Roadhouse, ia mengadakan liburan bersama dengan seribu karyawannya selama lima hari pada 2009 lalu. Padahal, Amerika waktu itu sedang mengalami resesi ekonomi yang berat.

Gathering tersebut menghabiskan dana hingga US$2 juta. "Pegawai adalah aset terbesar kami dan ini investasi yang akan menghasilkan keuntungan yang besar," katanya.

Definisi kekayaan bagi Hart adalah ketika ia memiliki cukup waktu dan uang untuk dapat membuat perbedaan di hidup orang lain. Kinerja Hart yang cemerlang ini dilirik perusahaan lain. Saat ini, Hart menjabat sebagai Executive Chairman, Chief Executive Officer dan President California Pizza Kitchen.

(Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/397542-sempat-dipandang-sebelah-mata--ia-kini-ceo-hebat)
Read More
Awalsadja

Pendekar Bodoh


Hari Jumat (15/2) lalu saya ketemu pak David Marsudi, presiden direktur jaringan restoran Cost. Orang satu ini luar biasa nyentrik-nya. Dia misalnya, menyebut dirinya sebagai pendekar bodoh (nama perseroan Cost adalah PT. Pendekar Bodoh). Kenapa? Karena, menurut dia, menjadi pengusaha itu harus terus-terusan merasa bodoh. Karena merasa bodoh, maka kemudian kita harus terus belajar. Kalau kita sudah pintar, kita berhenti belajar, ujarnya.

Pada saat mau ketemu pak David, kebetulan saya melewati meja resepsionis dengan latar belakang logo Cost Academy, training center jaringan resto bersemboyan: Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima ini. Yang mengusik saya adalah tagline Cost Academy yang bunyinya menggelitik, Stupid Guys Keep Learning; orang bodoh selalu belajar. Intinya, tagline itu ingin mengatakan, semua karyawan Cost adalah orang bodoh, dan karena itu akan selalu belajar. Kami adalah orang-orang bodoh berjiwa pendekar, tukasnya.

Ruarrr biasa!!! Terus terang, setelah hampir dua jam saya ngobrol dengan pak David, saya jadi malu abis karena selama ini saya merasa pinter dan sok keminter. Padahal sesungguhnya nggak ada apa-apanya dibanding pak David hehehe.

Giving

Yang membuat saya salut luar biasa ke pak David adalah prinsip bisnisnya yang meneduhkan. Begini bunyi falsafah bisnisnya: Hanya konsentrasi pada apa yang dapat Anda berikan, jangan kawatir atas apa yang akan Anda dapatkan. Intinya, Cost harus memberi, memberi, dan memberi. Semakin banyak memberi, maka ujung-ujungya akan semakin banyak mendapatkan. The more you give, the more you get!!!

Pak David memberi perumpamaan pendulum: Ketika dilempar, maka pada akhirnya pendulum pasti akan kembali. Saya kemudian iseng menimpali, Tapi masalahnya, kapan pendulum itu akan balik pak? Dengan tangkas ia menjawab, mungkin saat itu juga, mungkin sebulan kemudian, mungkin setahun kemudian, bisa juga bertahun-tahun kemudian. Nggak masalah, itu semua Tuhan yang atur, kita manusia tak usah repot-repot mikirin, jawabnya enteng.

Prinsip memberi inilah yang melandasi kenapa pak David memilih restoran sebagai bidang usahanya. Karena restoran itu menampung banyak pegawai, ujarnya. Kalau bisnis Cost sukses, maka makin banyak karyawan yang ditampung, semakin banyak berkah diberikan kepada karyawan. Karena itu pak David punya spirit bahwa Cost harus menjadi distributor rezeki bagi bagi para karyawan dan siapapun yang berbisnis dengan Cost. Wow betapa indahnya.

Memerdekakan

Berkah yang diberikan Cost, kata pak David, tak hanya kepada karyawan dan partner bisnis. Yang terutama justru kepada konsumen. Apa itu? Pak David bercerita bahwa model bisnis Cost sesungguhnya simpel, yaitu: menjadikan makanan-makanan yang dulunya nggak terjangkau oleh kantong rakyat kecil, kini menjadi terjangkau. Mimpi saya adalah menjadikan rakyat kecil bisa makan masakan hotel berbintang tapi dengan harga yang terjangkau oleh kantong mereka, papar pak David mengenai falsafah di balik tagline Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima.

Contohnya seafood. Selama ini kita mengenal seafood sebagai masakan mahal, tapi oleh Cost kini dibikin murah sehingga terjangkau rakyat jelata. Pak David kini juga sedang merintis restoran susi Jepang yang bakal buka sebentar lagi. Prinsipnya sama, kalau selama ini masakan susi mahal dan hanya ada di hotel berbintang, maka kini harus menjadi murah dan terjangkau rakyat kecil. Nanti kita akan bikin restoran Italia, restoran Amerika, restoran Eropa dengan harga rakyat jelata, tambahnya.

Jadi prinsip giving di sini diterjemahkan sebagai memerdekakan rakyat kecil yang ingin merasakan dan menikmati masakan mahal, masakan hotel, atau masakan luar negeri, yang selama ini tak terjangkau oleh isi kocek mereka.

Pengusaha Bodoh

Ada lagi konsep bisnis nyleneh pak David yang membuat saya berpikir tujuh keliling. Yaitu argumentasi pak David yang menyebut dirinya sebagai pengusaha bodoh. Dia bilang bahwa, kini pasar dipenuhi oleh konsumen pintar dan pengusaha pintar. Ciri konsumen pintar adalah ia minta mutu tinggi tapi dengan harga semurah mungkin. Sementara ciri pengusaha pintar adalah ia memberikan mutu tinggi tapi dengan harga berlipat-lipat lebih tinggi. Kalau konsumen dan pengusaha sama-sama pintar, maka ini nggak akan ketemu-ketemu, jelas pak David.

Karena itu, pak David memosisikan diri sebagai pengusaha bodoh. Apa cirinya pengusaha bodoh? Yaitu ketika dia memberikan mutu setinggi mungkin, tapi memasang harga semurah mungkin (yup, ini namanya ngajak bangkrut hehehe). Saya bisa pastikan, konsumen pintar lebih suka pada pengusaha bodoh dibanding pengusaha pintar. Itu sebabnya saya memilih menjadi pengusaha bodoh, seloroh pak David berargumen.

Secara logika model bisnis yang diambil pak David selintas nggak masuk akal. Bagaimana bisa memberikan mutu tinggi, tapi harga murah? Tapi justru inilah indahnya prinsip bisnis pak David. Intinya kalau niatnya ikhlas untuk memberikan yang terbaik untuk konsumen, maka Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Pendulum yang dilempar pasti pada waktunya akan kembali. Inilah indahnya prinsip memberi. Its the power of giving.

Nyentrik

Untuk memberikan gambaran bagaimana prinsip giving ini dijalankan pak David, coba kita simak program-program promosi nyleneh dan melawan arus (yup, paradoks) yang dijalankan Cost. Ambil contoh program Diskon Umur. Program ini memberikan diskon ke konsumen sesuai umur yang tertera di KTP. Kalau umur Anda 30 tahun maka Anda dapat diskon 30%. Kalau umur Anda 80 tahun Anda dapat diskon 80%. Lalu bagaimana kalau umur Anda 104 tahun? Anda malah dapat cash back, habis makan malah dapat duit, ujar pak David. Kwkwkwwkkw!!!

Contoh program nyleneh lain adalah program Hamil Baru Bayar. Program ini memberikan kesempatan para pasangan untuk merayakan pernikahan di Cost gratis untuk 300 kursi plus dekorasi pelaminan. Bayarnya kapan? Bayarnya setelah si istri hamil. Begini bunyi iklannya: Pesta Pernikahan Sekarang Hamil Baru Bayar.. (Tidak Hamil, Gratis). Ada juga program Uang dan Doa dimana konsumen membayar makanan di Cost dengan Separo Uang, Separo Doa. Syaratnya, si konsumen wajib mendoakan orang lain dalam secarik kertas, doa inilah yang dipakai untuk membayar separo harga makanan yang dipesan. Kwkwwkwkw!!!

Seperti halnya saya, Anda para pembaca pasti bertanya-tanya: Konsumen usia 104 tahun makan di Cost nggak bayar malah dapat duit, apa itu nggak bikin bangkrut? Atau, Pasangan menggelar resepsi gratis di Cost tapi setelah hamil menghilang nggak bayar, apa itu nggak bikin bangkrut? Inilah sekali lagi keindahan dari spirit of giving. Barangkali memang banyak pasangan yang tidak balik ke Cost saat istrinya hamil, tapi bagi pak David itu tidak jadi masalah. Dari program-progran yang unik itu kita mendapatkan simpati dari konsumen dan ini bisa memicu promosi dari mulut ke mulut yang nilai rupiahnya bisa miliaran, ujar pak David tangkas, pokoknya nggak usah kawatir, itu semua Tuhan yang atur.

Kini bahkan pak David sedang mempersiapkan gerai bakery-nya dengan merek D Stupid Baker. Yang menarik adalah tagline-nya yang berbunyi: 5 Star Quality, Stupid Price. Yang lebih menarik adalah nama perusahaan yang menaungi Stupid Baker, yaitu PT Bocuan Gapapa. Mau tahu apa maksudnya? Bocuan Gapapa maksudnya nggak profit nggak papa yang penting memberi.. kwkwkkwkwkwkk.

Mengikuti pengalaman saya ngobrol dengan pak David, mungkin Anda kini mulai terbuka lebar hatinya. Barangkali Anda mulai sepakat dengan saya bahwa, setelah membaca kolom ini kita harus menjadi orang bodoh. Orang bodoh yang berjiwa pendekar. Orang bodoh yang bersenjatakan spirit memberi. Sekali lagi: Its the power of giving.

Pak David memang T-O-P.. B-G-T!!!

yuswohadi
http://yuswohady.blogdetik.com
Ilustrasi: http://www.yuswohady.com/
Read More
Awalsadja

Bedanya Bisnis Dengan Dagang

Pagi ini, saya dapat SMS dari seseorang yang menanyakan Cara memulai Bisnis.
Saya jadi tergelitik membuat BM ttg Bisnis hari ini, jadi izinkan saya sharing yaaa.
Anda tahu beda BISNIS dengan DAGANG?
  1. Kalo DAGANG anda FOKUS pada PENJUALAN, klo BISNIS anda FOKUS pada PENGEMBANGAN. Pernah liat tukang Somay didepan Sekolah SD kita, JANGAN-JANGAN sampai hari ini dia masih jadi Tukang Somay.
  2. Kalo DAGANG ga pernah melakukan TIGA Proses ini :
    1. Menyimpan Pembeli.
    2. Menghitung Pembeli.
    3. Menganalisa Pembeli.
Coba perhatiin tukang gorengan, pernah ga dia MENANYAKAN nomor KONTAK SEMUA Pembelinya? Atau Memberi HADIAH, yg dikirim kerumah karena Pembelinya sudah memberi 100 gorengan Bulan ini.

Atau Memberikan BONUS 5 Bakwan saat Pembeli yg suka beli BAKWAN datang kembali?

Nah... BISNIS adalah tentang MENIKMATI SOLUSI bersama PEMBELI, bukan sekedar MENAWARKAN, MENJUAL lalu Pergi tanpa SILATURAHMI kemudian hari.
So.. Kamu PEDAGANG atau PEBISNIS?

Ali Akbar @PakarSEO
Penulis Buku @TrilogiOPTIMASI Bisnis,
#PlayboyMarketing
#WelcomeToTwitterland
#HujanRezekiPakaiBlackberry

Read More
Awalsadja

Business Angel

Ada hal menarik dari cerita dari orang-orang terkaya di dunia, salah satunya adalah ternyata mereka mengenal satu dengan yang lain dengan baik. Misalnya Bill gates dan warren buffet. Yang satu adalah raja software yang satu adalah raja investasi. Mereka ternyata bersahabat sudah cukup lama. Mereka bahkan rutin bermain kartu bridge tiap bulannya.
Ada lagi cerita lain, suatu hari orang terkaya di dunia di awal abad 20an yaitu aristotle onassis raja kapal dari yunani yang memiliki 50% armada kapal yang berlayar diseluruh dunia ditanya seorang wartawan dalam jumpa pers resmi. Tuan Onassis, bagaimana seandainya suatu hari anda terbangun dan seluruh kekayaannya hilang, nol. Apakah anda bisa sekaya ini lagi? Dan apa yang anda lakukan pertama kali?. Jawaban Aristotle Onassis hingga kini menjadi jawaban yang dikenang banyak orang. Dia menjawab, bisa berikan saya baju terbaik dan tunjukan saya dimana orang kaya berkumpul?!
Cerita fakta lainnya lagi, dijaman Rasulullah ada sahabat yang dikenal memiliki segalanya, harta terkaya di kota mekkah dan kedudukan yang dihormati. Dia memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan penyebaran Islam dimasa awal dan puncaknya ketika hijrah ke Madinah dia meninggal seluruh hartanya dan gabung berhijrah tanpa membawa apapun karena semua sudah di wakafkannya.beliau bernama Abdurahman bin Auf. Setibanya di Madinah sambutan hangat dan positif dari kaum Anshar penduduk Madinah akan kehadiran kaum Islam dari Mekkah tersebut diberikan . ada yang menarik setibanya Abdurahman bin Auf diMadinah. Beliau bertanya, dimana pasar?. Dengan suka cita penduduk Anshar menunujukannya dan apa yang terjadi, sejarah mencatat dalam waktu singkat dia menjadi orang terkaya di Madinah.
Dari cerita singkat di atas apa moral of the story nya?. Tentunya ada bnyak sudut yang bisa di telaah. Ada banyak sisi yang bisa dilihat. Ada banyak hikmah yang bisa dikupas. Ada banyak laku yang bisa di contoh. Bagi saya hal tersebut membuat saya mengambil strategi bahwa jika ingin sukses berbisnis maka berkumpul dengan orang sukses adalah wajib. Lalu kalau sudah berkumpul dengan orang sukses ngapain? Duduk-duduk saja? Atau ngobrol-ngobrol saja? Atau apa? Daripada banyak tanya dan bingung sendiri yang saya lakukan adalah ya kenalan dulu saja. Lalu ambi hatinya. Gitukan? Itu yang saya lakukan. Dan hingga saat ini para sahabat tersbeut saya buat menjadi mentor dan coach saya. dan secara terbuka saya mengatakan, ajari saya, ingeti saya, pintarkan saya.
Diantara banyak sahabat tersebut saya memilih menuliskan tentang mentor, guru, partner dan sudah menjadi seperti pengganti ayah saya yaitu bapak Kadek. Seorang perantauan asli Bali saat ini berusia 63 tahun, sekolah di bandung jurusan geologi hingga kini berbisnis didunia yang sama, oil & gas. Sebuah dunia yang dikenalnya sudah lebih 40 tahun menjadikan dia pantas disebut dengan gelar oil & gas Maestro. Diantara semua sahabat saya tersebut. saya lebih terbuka dengan beliau. Saya suka gaya beliau “menasehati” saya.
Sama ketika dikepala saya penuh dengan kegalauan. Penuh dengan kebimbangan di tahun 2009 dikala semua seakan menekan diri saya dengan pilihan jalan keluar hampir tidak ada. Bisnis saya seakan jalan ditempat semua. Hutang dan kewajiban menumpuk. Belaiu saya datangi. Wajah kusut saya terekspresi. Dan langsung di skak sama dia. Kamu mau mengajukan proposal bisnis tapi kamu berekspresi susah. Siapa yang mau mendekat, heh! Ujarnya tanpa tedeng aling-aling.
Misalnya kamu mau mengajukan peluang usaha kepada seseorang, namun sebelumnya kamu mengatakan ..saya sedang sulit. Baik verbal kamu katakan langsung atau non verbal seperti ekspresi kamu sekarang ini kamu menunjukan kesulitanmu maka seluruh penjelasan kamu setelahnya ini : Tidak Menarik siapapun!!! . saya cukup tersentak dengan nasihat itu namun saya ngguk setuju.
Habis saya di kuliahin waktu pertemuan tersebut. Namun semua ini adalah hal yang saya butuhkan. Itu adalah shock terapi yang saya perlukan. Sehingga dalam sekejab saya berubah. Dan benar saya harus tetap semangat, tetap happy, tetap tertawa, tetap pede walaupun dalam hati remuk redam. Mikul duwur mendem jero. Pandai bermain karakter dan lakukan dengan sepenuh hati. Pertahankan good feeling. Itu adalah bagian nasehat pak Kadek yang saya ingat hingga kini yang dia berikan kepada saya di saat tahun 2009.
Banyak mutiara-mutiara yang diberikannya kepada saya selama 30 tahun lebih saya mengenalnya. Bahkan akhir-akhir ini ketika saya dan putranya berdiskusi di ruangannya, tiba-tiba dia membuat statement pernyataan yang menurut saya sangat pribadi namun cukup menyentak. Dimana dia mengatakan kepada putranya yang secara tidak langsung juga berefek kesaya. Ini perusahaan, saya yang bangun, kamu sebagai anak saya jangan pernah berfikir ini adalah “legacy” kamu. Sampai kapanpun semua orang tahu, juga anakmu kelak,atau cucu, cicitmu bahwa ini legacy dari saya atau ayahmu. Bukan kamu. Kalau kamu mau juga mendapat kan legacy semacam ini, ciptakan sesuatu yang turunanmu bisa mendapatkan hasil legacy dari karyamu.
Bagi saya kalimat itu cukup menohok, namun sekali lagi, saya sulit membantah karena memang benar. Saya tadinya berfikir sang anak akan turn down atau loyo namun saya sungguh terkejut. Sehari setelahnya dia bicara pada saya, dia setuju dan dia merasa tertantang. Dia berjanji akan membangun legacynya sendiri. Dia berkata, mas, saya keinget kata-kata papah kemarin. Saya mereung malammnya dan saya menjadi nyala sekarang, semangat. Saya akan membuktikan saya bisa lebih besar dari papah. Apa kita gabung membangun bisnis property mas? Dia curhat sekaligus memberikan pernyataan. Ditantang membangun property, saya juga jadi semangat. Semangat membangun legacy baru buat kedepan bersama. Siapa takut, hayoo kita bangun bersama.
Sungguh , saya cukup terharu, juga kagum pada teknik yang pak Kadek lakukan. Menurut saya sedikit gambling berjudi terhadap sang anak menye-skak dengan cara ini namun lihat hasilnya. Bara api telah di tanam di dalam diri sang putra. memotivasi itu ibarat mengompori.membakar. kalau tidak ada baranya, sama saja api nyala hanya sebentar, namun kalau bara yang di tanam di kasih kipas nyalanya lebih lama. Bahkan selama bara menyala, semangat terus ada. Bara sudahnyala, sulit padamnya. Dan pak kadek berhasil menanam bara tersebut.
Kembali ke tulisan diawal, poin dalam tulisan ini sesungguhnya bukan melulu ingin membicarakan pak kadek namun saya mengharap dapat mengambil benang merah dari sambungan cerita dari atas. Ini semua saya tulis karena hari ini saya lagi di Cepu. Sedang hendak makan siang di warung mak gogok. Warung jualan ayam goreng yang sangat nikmat. Dalam perjalanan tadi ada sebuah pesatren kecil yang di depannya banyak anak-anak sedang latihan menyanyi ada nasyid dan barzanji dan lagu-lagu para sunan walisongo. Yang membuat pikiran saya melayang jauh tak kala anak-anak tersebut menyanyikan lagu tombo ati.
Tombo Ati merupakan lagu rakyat yang dibuat oleh Sunan Bonang. Beliau hidup sekitar abad ke 16, lagu Tombo Ati ini merupakan lagu popular dikalangan rakyat jawa khususnya sejak dulu kala, karena mudah didendangkan juga mudah dalam menghapalkan.
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat …dan seterusnya
“Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh”. Itu adalah kalimat yang terngiang ngiang ditelinga saya. Adalah benar jika ingin soleh kumpul dengan orang soleh. Ingin sukses kumpul dengan orang sukses. Ingin bahagia kumpul dengan orang yang banyak tersenyum dan tertawa. Jika ingin malas ngumpul dengan orang malas. Ingin rajin kumpul dengan orang rajin. Berkumpul dengan sejenis menentukan jenis apa kita jadinya.
Dari lagu dolanan tadi pikiran saya melayang ke cerita di atas. Sehingga saya yang kepalanya saat ini sedang penuh dengan pekerjaan, kewajiban ingin segera melewati waktu bersama mereka-mereka yang sukses. Ingin bersama para mentor, para guru, para legenda hidup ahli kehidupan. Dan tentunya saya pilih orang tersebut , yang pastinya saya ingin ditulari semangat mereka, di tulari visi mereka, mendapat informasi terkini dari perkemabnga apa yang mereka kerjakan, dimotivasi dan diajari.
Saya yakin para kita semua memiliki orang-orang seperti ini dilingkar pengaruh pribadi kita. Setiap kita pastinya memiliki teman di level bijak, sukses dan pantas mengajari diri kita dimanapun kita berada. Mereka itu dalam dunia bisnis biasa disebut dengan nama “Business Angel”.Dan saya yakin begitu bersama mereka kita semua tahu apa yang mesti kita lakukan sehingga kita bisa menjadi lebih baik lagi kedepan. Dan saya yakin kita semua memiliki business angel tersebut atau bahkan anda sudah menjadi business angel dari orang lain. Sukses selalu #peacebeuponus
#share status Mardigu WP
Sumber: http://www.facebook.com/TDABalikpapan/posts/588449671181031

Ilustrasi: http://online.wsj.com/article/SB125694047773419513.html
Read More
Awalsadja

Menjadi Kepala Semut Atau Ekor Gajah

Kisah ini diceritakan oleh entrepreneur ternama yang bernama Sandiaga Salahudin Uno.
Apakah mudah menjadi pengusaha? Bagi saya, awal berbisnis adalah survival mode. Betul-betul terpaksa karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ada krisis tahun 1998 yang menyebabkan saya kehilangan pekerjaan, sementara saya harus bertahan dan menghidupi keluarga baru saya. Waktu itu ada dua pilihan. Mencari pekerjaan baru atau berbisnis sendiri.
Saya putuskan berbisnis sendiri. Enam bulan pertama, boleh dibilang nyaris tanpa order. Klien nol. Hampir putus asa. Sampai terpikir, apakah benar pilihan saya menjadi pengusaha? Jangan-jangan memang mental saya lebih cocok menjadi karyawan. Dalam situasi ini, orang tua menasihati saya agar berani dan pantang menyerah. Harus sabar dan tekun memang. Alhamdulillah, perlu empat tahun agar bisnis ini memasuki fase titik balik ke arah positif. Sering saya ditanya, apa dan bagaimana memulai usaha? Kunci wirausaha adalah entrepreneurship. Ini berkaitan dengan sikap mental.
Pertama, umumnya orang enggan menjadi pengusaha karena takut bangkrut, takut tertipu dan lain-lain. Intinya takut akan risiko. Padahal risiko bukan barang asing bagi kita. Semua perbuatan mengandung risiko. Menyeberang jalan misalnya, berisiko tertabrak mobil. Namun risiko bisa ditekan dengan manajemen yang baik. Jika kita tidak sanggup menanggung bisnis berisiko besar, pilih saja bisnis yang lebih kecil risikonya. Jadi, mulailah dari yang kecil.
Kedua, jangan takut kekurangan modal, selama Anda punya kreativitas. Modal memang penting tapi ini bukan segalanya. Lazim berlaku di kalangan pedagang, menjual cash tetapi membeli dari pemasok dengan bayar di belakang. Jadi, tidak ada modal uang di sini. Ide kreatif lebih berguna menjalankan bisnis. Uang berapa pun cepat atau lambat habis jika tidak memiliki ide. Sementara kekuatan ide bisnis akan mengundang uang dengan sendirinya.
Ketiga, berani memulai. Makin cepat akan makin baik. Ibarat sebuah antrean, yang lebih dulu akan mendapatkan kesempatan lebih dulu. Jika selalu ragu-ragu, kita tidak akan pernah memulai dan tidak tahu apakah akan berhasil atau gagal. Kalaupun di tengah perjalanan ada kegagalan, itu hal wajar. Anggap saja hal itu ongkos belajar. Lebih baik kita gagal di awal daripada gagal di akhir. Bahkan seringkali yang tadinya kita anggap sebagai kegagalan, ternyata menjadi keberuntungan kita di kemudian hari. Sebab, kegagalan di awal menghindarkan kita dari kerugian yang lebih besar di belakang hari.
Keempat, mengubah mindset atau pola pikir. Think like an entrepreneur. Seorang pengusaha melihat kendala dan krisis sebagai peluang. Jika mindset ini sudah terbangun, kita akan memiliki banyak akal, kreatif, inovatif, berpikir tidak linier, dan mudah mengambil keputusan. Ketika orang-orang perkotaan memiliki waktu terbatas untuk mencuci, seorang pengusaha mendirikan usaha laundry.
Contoh lain, saya melihat jumlah penumpang di bandara semakin padat. Ini pertanda ekonomi kita makin bagus. Permintaan terhadap jasa angkutan udara juga meningkat. Bisnis penerbangan tentu punya prospek bagus. Makanya, kami berani masuk ke Mandala Airlines. Ada sebuah pameo, lebih baik menjadi kepala semut daripada ekor gajah. Dengan menjadi pengusaha, kita menjadi kepala, bukan sebatas ekor. Apakah kemudian badan kita besar atau kecil, tentu tergantung bagaimana kita mengelolanya.

Sumber: jpmi.or.id

Read More
Awalsadja

Fabel Tentang Semut Pekerja

Bila saat ini bisnis anda masih skala UKM dan ingin segera mengembangkannya menjadi lebih besar lagi skala usaha tersebut. Mari kita simak dongeng fabel (cerita binatang) berikut ini yang diadaptasi dari bahasa Portugis oleh PR. Obrigado Mário. semoga dapat bermanfaat.
Setiap hari, seekor semut kecil tiba di tempat kerjanya paling awal dibandingkan rekan-rekan kerja lainnya dan lalu segera memulai pekekerjaannya dengan semangat penuh. Dia sangat produktif dan cekatan sehingga dapat menghasilkan banyak output dan dia sangat senang akan pekerjaannya itu.
Pimpinan perusahaan di mana si semut kecil bekerja, yakni seekor singa, sangat terkejut melihat bahwa semut yang bekerja dengan produktivitas sangat tinggi serta cekatan itu ternyata selama ini telah bekerja dengan tanpa adanya seorang pengawasan/supervisi.
Sang singa berpikir jika semut dapat menghasilkan produktivitas kerja dengan begitu banyak tanpa pengawasan, tentunya dia akan jauh lebih berproduktivitas tinggi bila dibantu oleh adanya supervisor yang mengawasinya!
Selanjutnya sang singa pun segera merekrut sang kecoa yang memiliki pengalaman yang luas sebagai pengawas/supervisor dan juga telah terkenal karena kemampuannya dalam menulis laporan dengan sangat baik.
Lalu keputusan pertama yang diambil oleh kecoa setelah diangkat sebagai supervisor adalah untuk segera menghadirkan sebuah mesin absensi untuk memonitor keakuratan sistem palaporan kehadiran karyawan di departemen itu.
Sang Kecoa juga membutuhkan seorang sekretaris untuk membantunya menulis dan mengetik laporan dan dia pun segera merekrut sang laba-laba, yang ditugaskan untuk memanage ke-arsip-an dan memonitor semua panggilan telepon yang masuk.
Tentu saja sang singa sangat senang dengan laporan si kecoa dan memintanya untuk segera membuat laporan dalam bentuk grafik untuk menggambarkan laju peningkatan pencapaian produksi dan untuk menganalisis pola tren yang telah, sedang dan akan terjadi, sehingga ia bisa menggunakannya untuk presentasi pada pertemuan dengan dewan direksi (Board of Director).
Jadi, kecoa-pun harus segera membeli komputer dan printer laser baru dan segera direkrutnya juga sang lalat untuk mengelola departemen IT.
Sementara itu sang semut kecil itu, yang pernah menjadi begitu produktif dan cekatan dalam bekerja, sangat membenci hal-hal prosedural seperti ini karena sebagian besar waktunya sekarang tersita kebanyakan harus dihabiskan untuk berkutet membuat dokumen laporan dan pertemuan/meeting  yang panjang dan meletihkan itu!
Sang singa sebagai pimpinan perusahaan itu segera tanggap terhadap situasi yang mulai tidak kondusif ini dan sampai pada kesimpulan bahwa hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus segera dicarikan "seseorang" yang akan diangkat sebagai kepala depertemen serta bertangung jawab terhadap departemen di mana si semut kecil bekerja.
Posisi itu pun segera terisi dan diberikan kepada seekor jangkrik, di mana keputusan  pertama yang dibuat oleh si jangkrik ini adalah adalah segera membeli karpet dan kursi ergonomis untuk kantor dan posisinya yang baru tersebut.
Sebagai "orang baru" yang bertanggung jawab terhadap departemennya, sang jangkrik juga membutuhkan komputer dan asisten pribadi, yang ia bawa dari departemen di mana ia bekerja sebelumnya, yang tugas utamanya adalah untuk membantunya mempersiapkan Kerja dan Anggaran Rencana strategis Pengendalian Optimisation (Budget Control strategic Optimization Plan).
Departemen di mana tempat si semut kecil bekerja sekarang telah menjadi tempat yang sangat-sangat menyedihkan, di mana tak seorang pun ceria dan dapat tertawa gembira lagi dan semua orang telah menjadi sangat tegang dan mudah marah.
Keadaan yang terjadi di departemen ini telah membuat sang jangkrik segera merekomendasikan dan meyakinkan si bos besar, yakni sang singa, untuk segera melakukan akan kebutuhan mutlak melaksanakan memulai studi iklim lingkungan (a climatic study of the environment).
Setelah mengkaji ulang perhitungan biaya untuk menjalankan departemen di mana tempat semut kecil itu bekerja, sang singa menemukan fakta bahwa tingkat produksi saat ini di departemen itu ternyata jauh lebih sedikit daripada sebelumnya.
Lalu untuk mencoba mengatasi hal ini,  singa merekrut seekor burung hantu, yakni "seorang" konsultan bergengsi dan terkenal untuk melaksanakan audit di departemen itu dan mencari solusi terbaik yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan departemen tersebut.
Burung hantu menghabiskan waktu tidak kurang dari tiga bulan mengaudit departemen tersebut dan datang dengan buku laporan yang sangat tebal dan besar serta dalam beberapa volume, yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa: "Departemen ini terlalu kelebihan pegawai!" (The department is overstaffed)
Ayo, coba Tebak siapa yang akan pertama-tama segera dipecat oleh sang singa ??
Si semut kecil, tentu saja, karena dia "menunjukkan kurangnya motivasi dan memiliki sikap negatif". ("showed lack of motivation and had a negative attitude").
Hehe, di mana ya letak salahnya semua keadaan ini?
Semoga dapat bermanfaat untuk anda yang telah bersiap-siap mengembangkan sayap bisnis anda untuk menjadi semakin besar.
Amriwansyah Kumara
Sumber: sebuah milis

Disalin dari: http://spiritislam.net/index.php/2012/08/26/ukm-ingin-berkembang-gimana-caranya-belajar-dari-fabel/

Read More
Awalsadja

Mengelola Keuangan Ala Rasulullah

Ada seorang pria yang sedang berjalan di padang pasir, tiba-tiba dia mendengar suara dari langit yang mengatakan:
“Airilah kebun si Fulan!” Kemudian dia lihat ada awan yang berjalan menuju tempat tertentu, lalu awan itu menumpahkan airnya (air hujan) di sebuah areal tanah yang penuh dengan batu hitam. Di sana ada sebuah aliran air yang menampung air tersebut.
Pria itu terus mengikuti kemana air itu mengalir. Tiba-tiba dia melihat ada seseorang yang sedang berdiri di kebunnya sambil mendorong air itu dengan penyodoknya ke dalam kebunnya. Dia berkata: “Hai hamba Allah! siapa nama Anda?” Dijawab oleh pemilik kebun itu: “Namaku Fulan.” Persis seperti nama yang didengar dari arah awan tadi. Pemilik kebun itu balik bertanya: “Hai hamba Allah! mengapa Anda menanyakan nama saya?”
Dijawabnya: “Aku telah mendengar suara di awan yang menurunkan air ini, suara itu mengatakan, ‘Airilah kebun si Fulan’ dan dia menyebutkan namamu. Apa sebenarnya yang Anda perbuat dengan kebun ini?”
Pemilik kebun itu menjawab: “Kalau itu yang Anda katakan, maka ketahuilah, sesungguhnya aku perhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini. Lalu sepertiga aku sedekahkan, sepertiganya lagi aku makan bersama keluargaku dan sepertiga yang terakhir aku kembalikan lagi ke kebun untuk ditanam.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Aku jadikan sepertiganya sebagai sedekah untuk orang-orang miskin, para pengemis dan ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan)”.( HR. Muslim 4/2288 No. 2984 dan Ahmad 2/296.)
Tidak mungkin Rasulullah bercerita seperti diatas, jika tidak ada ibrah/hikmah yang bisa diambil dan dipelajari. Banyak poin2 dan inspirasi yang sangat mengena dan mendasar bagi para pelaku bisnis, dari hadits yg sangat simple ini. Subhanallah.. Allahumma shalli wa salim ala Muhammad.
Penulis jg pernah mendengar kisah, ada seorang tukang bakso yg bertekad untuk naik haji. Setiap pelanggan membayar bakso, dibaginya uang pelanggan tersebut pada 3 kotak terpisah. kotak pertama untuk membeli bahan2 bakso, kotak kedua untuk nafkah keluarga beserta zakat, sedekah, kotak ketiga adalah tabungan haji. Subhanallah.
kembali ke hadits diatas, inspirasi nya adalah dalam mengatur keuangan yang sederhana dan powerful!
Pembagian keuangan pada hadits tersebut tentu saja ketika omzet atau total income dikurangi beban2 perusahaan seperti gaji karyawan, sewa lahan, penyusutan, budget marketing, budget training, dll. atau kalau untuk karyawan, ketika gaji telah dikurangi pajak, ongkos bensin, dll. Kemudian ketemu net-profit. Nah net-profit inilah yang kita pecah menjadi bagian yang masing2 sepertiga.

Sepertiga pertama adalah untuk sedekah

Penulis sendiri diajarkan oleh gurunya, Robbyantono untuk me-wakaf-kan sebagian saham perusahaan. Alhamdulillah, semua perusahaan penulis dari yg IT, hingga www.plasaemas.com telah mengikuti langkah gurunya.
Tidak lupa untuk wakaf produktif, misalkan wakaf untuk gerobak mie ayam yg kemudian disewa oleh tukang mie ayam (tentu saja dengan biaya sewa yg murah) dan hasil sewa nya baru, kemudian full di sedekahkan.. dana wakaf yang misalnya 3jt, bisa disulap jadi sedekah 100rb tiap bulan (setelah sebagian disisihkan untuk bisa bikin gerobak baru lagi), dan bisa seumur hidup.. sekaligus membuat lapangan pekerjaan untuk tukang mie ayam... menarik bukan :)
Contoh wakaf produktif lain adalah ke kucing. penulis melakukannya ke PrabuCats uang wakaf 10jt, menghasilkan sedekah 500rb tiap bulan. lebih powerful! cukup untuk menyekolahkan gratis anak2 yg tidak mampu. Bandingkan jika kita langsung men-sedekah-kan uang 10jt begitu saja, tentunya dalam beberapa hal, wakaf produktif menjadi lebih baik :)
Jatah sepertiga untuk sedekah ini (atau 33,33%) setidaknya 10% digunakan untuk wakaf (sukur2 bisa lebih :) ). tapi sebisa mungkin memilih wakaf yang produktif. dan 3,33%-nya untuk zakat (supaya angka nya genap). Sisanya 20% dilarikan kemana? Jangan buru2 kepikiran lembaga ZIS ya.. lihat dulu sekeliling kita :)
Inget lho, sedekah yang paling utama adalah untuk orang2 terdekat kita. Dalam hal ini adalah tetangga dan juga kerabat (saudara). Bersyukurlah kalau ada tetangga yg ketok pintu rumah kita untuk minta sedekah atau berhutang, karena kita tidak perlu capek lagi menyalurkan dana :)
Bantu kerabat yang terlilit hutang. tentu saja kerabat harus membayar kembali ke kita, tapi tanpa bunga ya. Ibaratnya mereka dipinjamkan sama dana "umat". nah setelah dikembalikan ke kita, bantu lagi deh tetangga/kerabat yang berhutang. Jadi semacam dana abadi umat versi kecil.
Kalau sudah tidak ada tetangga/kerabat yg membutuhkan bagaimana? Alhamdulillah, bisa salurkan ke yg produktif. misalkan bikinkan majlis talim di lingkungan kita, atau pinjaman lunak buat pedagang2 gerobak yg mau membayarkan gerobak sewa nya yg milik majikan, dll. kalau duit nya masih sisa banyak? bisa juga beli ambulan gratis, perpustakaan gratis lengkap dgn internet, dll.. banyak pokoknya :)
Lalu bagaimana jika kita sendiri yg punya hutang? misalkan di masa lalu pernah mengalami kebangkrutan besar, meninggalkan banyak hutang. Nah, si 20% ini jg bisa kok untuk bayar hutang masa lalu kita yg "nyangkut". karena membayar hutang itu hukumnya wajib. Dan bisa menjadi sebab penghalang masuk surga. nah lho! asal bukan buat bayar cicilan mobil, rumah, TV, HP ya. Atau bisa jadi kita butuh duit mendadak, misalkan anak sakit butuh biaya perawatan, atau ada tagihan perusahaan belum terbayar, no problemo.. dana ini juga bisa kita pinjam sementara. tapi ya nanti tetap dikembalikan. Asik kan jadinya punya dana "cadangan" :)
Pasti asik kan berpetualang dengan dunia wakaf dan sedekah.. Udah ganjarannya berlipat (hingga 700 kali lipat), juga bikin hati tenang. Apalagi jika dilakukan berjamaah.
Gimana kalau kita mulai bulan ini? hari ini? sisihkan sepertiga income bersih untuk urusan zakat, sedekah, wakaf.. setuju?

Sepertiga kedua adalah untuk nafkah keluarga

Sepertinya yang ini ga usah dijelasin dan diajarin, ya habiskan deh jatah yg sepertiga ini. Buat makan, biaya pendidikan, pakaian, cicil rumah, cicil mobil, gadget, dll.
Apa yg menarik dari hal ini? bahwa hadits ini secara tak langsung membolehkan kita untuk membeli pakaian yg bagus, kendaraan yg bagus, rumah yg besar, dll. asalkan proporsi ya hanya sepertiga saja.
Jadi jangan keburu sewot ya klo tetangga misalnya beli mobil, yg menurut kita harganya mahal. langsung kita dengki, bahkan ajak orang lain untuk ikut mendengki. naudzubillah. Padahal yg beli mobil itu sudah mengeluarkan sepertiga sebelumnya yg untuk sedekah :) Bukankah kuda (baca:kendaraan) Rasulullah adalah kuda terbaik? pakaian yg dikenakan Abdurrahman bin Auf juga pakaian yg mahal harganya?
Misalkan anda memilih hidup sederhana, zuhud, itu memang hak anda, dan itu sangat bagus... Tapi memaksa orang lain untuk menjadi seperti anda, dan mencemoohnya, itu tidaklah bijak. Apakah jaman dulu ada yang berani mencemooh gaya perlente nya Abdurrahman bin Auf?
Yuk daripada sibuk mengukur orang lain, lebih baik fokus untuk memberikan sepertiga kita untuk sedekah dulu. belajar dan belajar.

Sepertiga yang ketiga adalah untuk ditanam kembali (investasi)

"Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung." (HR. Bukhari)
So, sudah jelas ya syarat untuk untung, hari ini harus lebih baik dari kemarin. Artinya selalu tumbuh berkembang (growth). Apa yg sudah kita lakukan untuk terus berkembang? apa yg sudah kita tanam? yg sudah kita investasikan?
Lucunya sebagian besar kita (termasuk penulis tentunya) berharap hari ini lebih baik dari kemarin. Tapi tidak melakukan apa2 yg lebih, tidak meng-investasikan apa2, tidak menanam apa2. Hanya sebatas harapan semu aja, dan terus berharap, hingga usia memakan kita :)
Lucunya lagi, ketika awal2 bisnis, kita meng-"investasi"-kan 12 jam waktu kita dalam sehari, full untuk bisnis. Tapi ketika bisnis menjadi sedikit mapan, kita malah mengurangi "investasi" waktu kita tsb. Bahkan tak jarang meninggalkan bisnis kita seminggu lebih, untuk jalan2 ke luar negeri misalnya. Sebuah penurunan?
Lucunya lagi, bertahun2 berbisnis, tapi aset bisnis ga berkembang. profit pun stagnan, bahkan cenderung turun karena persaingan. Boro2 buka cabang, untuk mempertahankan yg ada dari kebangkrutan aja udah susah banget.
Hoi!! katanya hari ini harus lebih baik dari kemarin! yuk bangkit, walau cuma maju dengan satu langkah kecil. misalkan coba sebarin brosur di lampu merah. Ya apa aja, yg penting ikhtiar harus lebih baik. Sisihkan sebagian keuntungan untuk budget marketing, iklan, branding dsb.. supaya pasar hari esok bisa lebih baik dari hari ini. Buat training, pelatihan untuk karyawan, juga create sistem rekrutmen yg mantap. supaya tim hari esok bisa lebih baik dari hari ini.
Jangan lupa anggarkan untuk tim riset development, supaya dapat terobosan baru untuk produk, sales dan lain2. supaya omzet hari esok lebih baik dari hari ini. Contoh simple adalah bisnis penulis www.plasaemas.com, aset emas bulan depan harus lebih banyak dari bulan ini. wajib dipaksakan, walaupun ibaratnya cuma tambah 1gram emas saja. Tapi tetap, ditargetkan tinggi.. misalkan aset bertambah 500gram setiap bulan. (amin kan ya..) Di segala lini, harus ada growth. sesuai hadits pada artikel penulis sebelumnya. China aja pertumbuhannya 9% per tahun, masa pertumbuhan individual kita atau perusahaan kita lebih rendah dari suatu negara. Tul gak :)
Nah, sekarang kita bicara individu, misalkan profesi kita pegawai/karyawan. Sepertiga jatah yg ini bisa digunakan untuk modal bisnis, investasi di bisnis teman, invest di saham, emas batangan atau dinar emas (belinya di plasaemas.com ya hehe), atau invest di properti yg menghasilkan (misalkan ruko, kontrakan petak, dll).
Kalau kita tidak menyisihkan sepertiga yang ini, jangan berharap ada peningkatan penghasilan.. jangan berharap kalau hari esok akan lebih baik.

Kesimpulan

Secara teori memang mudah.
Buat yg income nya ngerasa masih kurang, pasti ngeluh "Lha kalau sudah punya penghasilan 50jt/bulan sih enak bagi2nya. Ini income gw cuma 3jt/bulan, gimana bagi2nya?!"
Semua mulai dari hal kecil kok :)
Maaf bukan maksud menggurui, toh masih banyak yg penghasilannya dibawah 1jt/bulan, tapi masih bisa hidup.
Setelah dikurangi bensin, transport, dll, katakanlah sisa 2,7jt. Nah ya sudah, 900rb saja yang dihabiskan untuk keluarga. kurangi gaya hidup, untuk masa depan lebih baik. Iinsya Allah bisa cukup.. tapi akhirnya kembali jg ke kita, mau jadi lebih baik atau tidak :)

Buat yg income besar pun juga susah, dan berasa kurang :) (yang punya gaji diatas 40jt/bulan pasti ngangguk2 hehe)
karena gaya hidup pasti mengikuti.. cari rumah yg cicilan nya 10jt/bulan, mobil yg cicilannya 10jt/bulan, jatah untuk makan di resto aja bisa 5jt/bulan. jatah liburan? ga mungkin ke Ragunan kan yg cuma bayar 3ribu perak hehehe.. Nah susah juga kan bagi2nya hehehe...
Jadi ga ada excuse mau penghasilan besar atau kecil, intinya kembali ke kedisiplinan kita.

Percaya deh, nanti merasakan nikmat yg luar biasa karena 2 hal..
1. Karena kenikmatan yg datang setelah kita menunda banyak kesenangan
2. Karena kenikmatan yg datang setelah apa2 yg kita tanam..
itu kenikmatan luar biasa, ketika sekali mencoba, dijamin nagih!

Yuk kita coba, untuk hari esok yang lebih baik..

salam
@adzan
adzan101.blogspot.com
Disalin dari:
Read More
Awalsadja

Gratiskan Jualan Anda

“Cara jualan kamu kuno !” Demikian kata seorang pengusaha senior kepada saya ketika kami sedang berbuka puasa bersama, bulan Ramadan lalu. Saya tergagap. Wah, baru kali ini ada yang mengatakan demikian tentang model bisnis saya. Tapi berhubung beliau jauh … jauh … jauh … lebih berpengalaman dibanding saya, dengan usaha yang skala nya ratusan kali lipat usaha saya, saya tidak punya pilihan lain selain mendengar kritikan beliau. Saya menahan nafas menunggu kalimat beliau berikutnya.
Beliau menambahkan, “Kalau kamu bisnis IT, nyuruh pelanggan beli produk, itu bisnis jaman dulu”. Saya mulai paham. Karena beberapa pelanggan saya ada yang memang menggunakan pola pembayaran bulanan atau sewa. Tidak mau kalah saya langsung berkomentar: “Kalau sewa atau bayar biaya bulanan bagaimana Pak?” Beliau menjawab: “Itu lebih baik. Tapi itu sekarang juga sudah kuno!” Nah ini bikin saya kaget lagi. “Yang gak kuno gimana dong Pak?”, saya makin penasaran. “Yang gak kuno itu kalau pelanggan gak usah bayar !.” Nyaris saya lompat dari kursi. Gratis? Musti bayar gaji karyawan dari mana? Beliau hanya tertawa-tawa, membuat saya makin penasaran.
Seolah “Law of Attraction” bekerja keras untuk saya. Dua minggu kemudian tanpa sengaja saya nemu buku baru karya salah satu penulis favorit saya Chris Anderson, judulnya: “Free: The future of radical price”. Ya, pengusaha senior tadi ternyata benar! Masa depan ternyata ada pada harga nol, alias gratis. Pelanggan gak usah bayar.

Semua Serba Gratis

Tidak dapat disangkal, virus gratis memang sudah menjalar kemana-mana. Kita sekarang bisa dengan mudah mengakses internet di mall-mall melalui infrastruktur hot-spot gratis. Saya menggunakan laptop dengan OS Linux Ubuntu yang dibagi-bagikan gratis oleh Canonical, mengetik dengan word-processor OpenOffice yang disediakan gratis oleh Sun Microsystem, menggunakan browser Firefox yang gratis, menggunakan layanan email gratis dari Google, chatting gratis melalui Yahoo Messenger dan mengakses jaringan seperti Facebook secara gratis. Malah kalau online nya di bandara, kopi yang menemani saya online pun gratis, komplimen dari lounge yang disponsori penerbit kartu kredit yg saya pakai. Chris Anderson malah mengetik seluruh isi buku nya melalui aplikasi Google Docs, word processing gratis yang disediakan online oleh Google.
Tunggu … kenapa yang gratis hanya layanan-layanan yang terkait dengan internet? Oh tidak. Diluar itu Anda juga dengan mudah menemukan produk atau layanan gratis atau sangat murah. Memang tidak semua sudah tersedia di Negara kita. Beberapa tahun lalu, kalau ingin pasang antenna parabola di rumah, kita harus membayar cukup mahal. Sekarang antenna parabola “dipinjamkan” oleh provider layanan siaran TV melalui satelit. Modem bisa kita peroleh gratis jika kita berlangganan broadband. Hampir semua penerbit kartu kredit sudah menggratiskan iuran tahunan-nya. Low cost airlines telah merevolusi dan mempelopori penjualan tiket pesawat terbang sangat murah atau bahkan gratis. Di Negara-negara maju, daftar produk gratis ini semakin banyak. Anda dapat memiliki handphone dengan gratis, tentu dengan kontrak berlangganan tertentu. Memiliki laptop gratis, dengan berlangganan akses broadband. Singkat kata semua ada versi gratis nya, bahkan mobil gratis pun ada. Kalau majalah gratis sudah sangat biasa, Di Tokyo, malah ada toko yang menyediakan 5 item gratis untuk setiap pengunjungnya, mulai dari lilin, mie instan, sampai krim wajah.

Makan Siang Gratis Memang (Pernah) Ada

Anda tentu pernah mendengar ungkapan “tidak ada makan siang gratis”. Ungkapan ini sebenarnya berasal dari jaman Cowboy di Amerika Serikat. Pada waktu itu banyak Saloon, tempat nongkrong orang Amerika jaman dulu, yang menyediakan makan siang gratis untuk menarik pengunjung. Makan siang nya memang benar-benar gratis. Tapi pengunjung harus bayar mahal untuk yang lain-lain, seperti minuman, permainan kasino, sewa kamar, dsb.
Bagi-bagi produk gratis juga awalnya dilakukan oleh King Gillette, pencipta silet cukur pertama di dunia. Jaman dahulu pria bercukur dengan pisau cukur lipat yang tidak praktis, harus sering di asah, dsb. Ide menggunakan pisau cukur super tipis yang tidak perlu diasah, tapi dibuang jika sudah tumpul, adalah ide baru yang awalnya sulit dipahami. Gillette pun membagikan secara gratis sebagai marketing gimmick produk lain, dengan harapan pengguna baru yang menyukai ide ini selanjutnya akan membeli. Misalnya bekerjasama dengan bank, pisau baru Gillette dijadikan bonus bagi pembuka rekening tabungan. Dan Gillette benar, lambat laun pisau cukur Gillette dikenal dan kemudian mendunia hingga hari ini.
Jell-O, dessert paling popular di Amerika juga awalnya sulit untuk dijual. Peter Cooper, penemu makanan dari gelatin ini kesulitan memperkenalkan produk baru nya. Baru setelah produk ini dipasarkan oleh genius pemasaran dan orator Francis Woodward, Jell-O menemukan tempatnya di pasar. Woodward bukan membagikan produk ini secara gratis. Namun mencetak dan membagikan buku resep gratis untuk memberi ide kepada calon pelanggan, bahwa Jell-O sangat praktis dan dapat disajikan dengan berbagai variasi. Woodward yang membeli lisensi Jell-O hanya seharga $450 sukses besar.

Dari Kelangkaan Menuju Keberlimpahan

Model gratis a la Saloon, Gillette dan Jell-O adalah model-model gratis abad lalu, yang hingga sekarang masih sering digunakan. Namun, abad 21 telah menciptakan model bisnis gratis baru. Model bisnis yang digerakkan oleh kemudahan dan teknologi.
Plastik pada awalnya dirancang sebagai produk eksklusif. Riset dan produksinya memerlukan biaya mahal. Plastik juga lebih kuat dan tahan lama disbanding kayu. Jadi sudah selayaknya produk dari plastic dijual mahal. Namun, kita lihat hari ini, plastic demikian berlimpah ada dimana-mana. Plastik pada akhirnya menjadi komoditas yang berlimpah dan murah.
Barang elektronik modern tumbuh pesat setelah transistor ditemukan. Pada awalnya transistor adalah barang langka yang mahal. Tahun 1961 harga 1 buah transistor adalah $ 10. Kurang dari 10 tahun harga nya sudah tinggal $1 sen. Dan hari ini, sebuah microchip yang setara dengan 2 milyar transistor hanya dijual $ 300, atau 0.000015 sen per transistor. Hal yang sama terjadi juga untuk kapasitas penyimpanan disk dan juga bandwidth, yang semakin lama semakin murah. Inilah yang kemudian memicu revolusi digital yang merubah cara pandang pengusaha dalam mencari revenue.
Ketika sebuah produk telah menjadi komoditi yang “terlalu murah untuk dihargai”, maka kita tidak lagi bisa mengandalkan harga produk sebagai sumber revenue kita. Harga sangat terkait dengan kelangkaan, sementara yang kita hadapi adalah keberlimpahan.

Gratis? Dari Mana Uangnya?

Menjalankan usaha memang tetap harus berorientasi pada profit, yang sumber nya adalah revenue dikurangi cost. Model bisnis gratis pada dasarnya melakukan kreatifitas pada sumber revenue, bukan menghilangkan revenue. Jika semula revenue semata dari harga jual, maka dengan prinsip keberlimpahan, kita coba mencari revenue dari sumber lain. Beberapa model bisnis yang ada adalah:

Subsidi Silang Langsung

Ini model generasi pertama. Revenue dari sumber lain memberikan subsidi silang untuk item yang sengaja dibuat lost. Misalnya, gratis handphone, tapi bayar talktime. Gratis antenna parabola, bayar biaya langganan. Gratis software, bayar hardware. Dsb. Termasuk model bisnis yang digunakan Canonical yang membagikan OS Ubuntu Linux secara gratis. Software nya memang gratis, tapi jika perusahaan kemudian butuh jasa konsultasi, training dan implementasi Ubuntu resmi dari Canonical, perusahaan tersebut harus membayar mahal.

Subsidi Pihak Ketiga

Ini model bisnis yang digunakan Radio, TV dan Majalah Gratis. Pelanggan gratis, tapi pemasang iklan bayar. Digunakan juga oleh penerbit kartu kredit yang menggratiskan iuran, tapi memberikan charge yang mahal ke merchant. Diskotik juga menjadi pelopor model ini melalui program “ladies night”. Gratis untuk pengunjung wanita, tapi pengunjung pria membayar.

Freemium

Ini model yang sering digunakan perusahaan konsultan dan teknologi informasi. Gratis untuk versi yang generic, tapi membayar untuk versi premium. Bisa juga divariasikan dengan modul. Untuk modul terbatas gratis, modul yang lebih lengkap bayar. Gratis untuk konsultasi awal, bayar untuk jasa konsultasi yang lebih lengkap. Gratis untuk overview seminar, bayar untuk training yang lebih lengkap.

Nonmonetary

Ini yang 100% gratis. Jasa yang diberikan sama sekali gratis. Imbalan yang diterima penyedia jasa adalah perhatian dan reputasi. Dan dengan reputasi yang semakin meningkat, dikenal dimana-mana, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendatangkan revenue. Musisi yang memberikan karya nya secara gratis dan memperoleh reputasi dan perhatian, dapat menghasilkan revenue dari konser-konser ataupun penjualan merchandise nya.

Sebelum Menggratiskan Jualan Anda

Oke … oke, mungkin kedengarannya masih menakutkan untuk menggratiskan begitu saja jualan Anda. Memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum Anda menggratiskan jualan Anda:
Pertama, Sesuaikan dengan model bisnis yg ada sekarang. Anda harus analisa baik-baik dari mana sumber revenue Anda. Secara umum menggratiskan jualan Anda dimaksudkan untuk memperbesar revenue, bukan mengurangi revenue. Kalau Anda jualan baju dan membagi-bagikan begitu saja produk terbaru Anda, sulit dibayangkan untuk mendapat revenue yang lebih besar. Tapi jika Anda member subsidi pada asesoris dan membagikan gratis sebagai gimmick untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak, jauh lebih masuk akal. Atau mungkin yang bisa digratiskan adalah catalog, newsletter atau buku kecil tentang bagaimana memanfaatkan produk Anda secara maksimal.
Kedua, gratis akan efektif jika sifatnya masal, melibatkan crowd yang besar. Karena dengan biaya yang sudah ditetapkan, maka semakin besar pelanggan terlibat, biaya per pelanggan akan semakin kecil hingga nyaris nol. Membagikan software gratis kepada 100 orang atau 1 juta orang akan sangat berbeda. Maka Canonical dengan Ubuntu nya rajin mengirim CD gratis. Dalam ekonomi digital eksistensi produk kita di pasar akan sangat tergantung pada atensi dan reputasi. Gratis adalah senjata untuk mencapai dua hal tersebut.
Saya menutup buka bersama dengan pengusaha senior yang saya ceritakan di depan dengan perasaan puas. Beliau menceritakan dengan detil “resep rahasia” menggratiskan layanan IT beliau, dan tetap memperoleh revenue dari tempat lain. Sebelum kami berpisah, beliau mengucapkan kalimat: “Oh ya, kalau semua sudah gratis, gratis pun jadi kuno. Harusnya pelanggan gak usah bayar, malah dibayar!” Waduh …. (FR)

Disalin dari: http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/10/gratiskan-jualan-anda.html
Read More